Selasa, 17 Maret 2020

Jurnal 5 Reaksi-reaksi aldehida dan keton


JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I




DISUSUN OLEH  : SARI BULAN
NIM                        : A1C118065
KELAS                  : REGULAR A 2018


DOSEN PENGAMPU:
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS LEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020






PERCOBAAN 5
              I.          Judul : Reaksi-reaksi aldehida dan keton
            II.          Hari  / Tanggal : Rabu, 18 Maret 2020
         III.           Tujuan : Adapun tujuan pada praktikum kali ini ialah
1.    Dapat memahami azas-azas reaksi senyawa karbonil
2.    Dapat memahami perbedaan reaksi antara aldehid dan keton
3. Dapat menjelaskan jenis-jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton
         IV.          Landasan Teori
Momen dipol akan terjadi diantara ikatan rangkap karbon dan oksigen dimana molekulnya adalah molekul yang polar karena memiliki suatu ikatan karbonil hal ini termasuk prinsip dasar dalam senyawa-senyawa aldehid dan keton. Momen dipol akan terjadi disekitar ikatan karbonil maka konsekuensi logis dari hal ini adalah memiliki titik didih tinggi pada senyawa-senyawa karbonil dari pada suatu alkena meskipun memiliki berat molekul yang sama.
Ikatan hydrogen dengan molekul air yang polar akan terbentuk dengan bantuan aldehid dan keton. Formaldehida, asetaldehida , dan aseton merupakan anggota deret yang rendah yang memiliki sifat larut dalai air dalam segala perbandingan. Sifat aldehid dan keton yaitu adalah netral. Dalam air dan pelarut organic akan larut yang memiliki siku-siku rendah. Yang tidak larut dalam air adalah yang memiliki siku lebih rendah dari 4c (Riawan, 1989).
Aldehid dan keton tidak mengandung hydrogen yang terikat pada oksigen, maka tidak dapat terjadi ikatan hydrogen seperti pada alcohol ini merupakan sifat fisik dari aldehid dan keton. Senyawa organic ini adalah polar dan gaya Tarik menarik elektrostatik yang relative kuat antara molekulnya dapat terbentuk, bagian negative sebuah molekul akan menarik bagian positif (Fessenden, 1997).
   Reaksi pada gugus karbonil akan dialami oleh senyawa aldehid dan keton, polar sifatnya gugus karbonil dan ketiga atom terikat pada atom karbon terletak pada bidang datar dengan sudut ikatan 120 ֯C karena memiliki orbital hibrida sp. Gugus karbon terdiri dari satu ikatan atau dua ikatan dan satu ikatan phi dalam ikatan rangkap karbon oksigen. Ikatan hasil tumpeng tindih satu orbital sp 2 atom karbon dengan satu orbital p atom oksigen adalah merupakan ikatan 2 (Kartaja, 2004).
Senyawa organic yang mengandung gugus karbonil C=O adalah aldehid dan keton. Dikatakan gugus karbon jika salah satu dari kedua gugus tersebut menempel pada gugus karbonil. Dinamakan senyawa yang golonganny aldehid jika salah satu dari kedua gugus tersebut adalah hydrogen (Petrucci, 1987).
           V.          Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah :
5.1    Alat
1.      Pipet tetes
2.      Erlemeyer 50 ml
3.      Tabung reaksi besar dan kecil
4.      Pengaduk
5.      Penangas
6.      Corong pisah
7.      Lemari es
8.      Alat refluks
9.      Corong Hirsch
10.  Gelas kimia

5.2    Bahan
1.        Perak nitrat 5%
2.        NaOH 5% dan 1%
3.        Ammonium Hidroksida 2%
4.        Benzaldehid
5.        Aseton
6.        Sikloheksana
7.        Formalin
8.        Natrium sitrat
9.        Natrium karbonat
10.    Aquades
11.    Perekasi fehling
12.    Natrium kalium tartrat
13.    Formaldehid
14.    n-heptanaldehid
15.    sikloheksanon
16.    NAHSO3 jenuh
17.    Es
18.    Etanol
19.    HCl pekat
20.    Fenilhidrazin
21.    Metanol
22.    Benzaldehida
23.    2,4 dinitrofenilhidrazin
24.    Natrium asetat trihidrat
25.    Hidroksilamin HCl
26.    Iodium iodide
27.    2-pentanon
28.    3- pentanon
29.    Isopropanol
30.    Asetaldehid
         VI.          Prosedur Kerja
6.1     Uji cermin kaca, Tollens
1.        Disiapkan 4 tabung reaksi yang berisi pereaksi tollens
2.        Disiapkan satu tabung reaksi yang bersih sekali, kedalam 2 ml larutan nitrat 5%
3.        Ditambahkan 2 tetes larutan NaOH 5% lalu ditambahkan tetes demi tetes sambal diaduk larutan ammonium hidroksida 2% hanya secukupnya
4.    Diuji benzaldehid, aseton, sikloheksanon dan formalin. Dengan jalan menambahkan masing-masing 2 tetes bahan tersebut kedalam tabung uji
5.        Diaduk campuran dan didiamkan selama 10 menit
6.        Dipanaskan tabung dalam penangas air selama lima menit
7.        Diamati apa yang terjadi
6.2     Uji Fehling dan Benedict
1.        Ditambahkan 5 ml pereaksi benedict ke dalam masing-masing 4 tabung reaksi. Cara pembuatan : Larutan 173 gram natrium sitrat dan 100 gram natrium karbonan dalam 750 aquadest, diaduk dan disaring kedalam fitrat dan ditambah dengan larutan 17,3 gram CuSO4.5H2O dalam 100 ml air dan diencerkan hingga volumenya 1 liter
2.        Digunakan 5 ml pereaksi fehling yang masih resh. Cara membuat : Larutan A = 69 gram CuSO4.5H2O dalam 1 liter air suling. Larutan B = 346 gram natrium kalium tartrat atau garam Rochelle didalam larutan NaOH 10% dimana pereaksi fehling Adan B sama banyak baru dicampur
3.   Diuji formaldehid, n-heptanaldehid, aseton, dan sikloheksanon dengan memasukkan kedalam masing-masing tabung reaksi yang berisi pereaksi  fehling dan pereaksi benedict
4.        Ditempatkan tabung yang berisi tadi di air mendidih selama 10-15 menit
6.3     Adisi Bisulfit
1.        Dimasukkan 5 ml larutan NaHSO3 kedalam Erlenmeyer 50 ml
2.        Dilarutkan larutan dalam air es
3.        Ditambahkan 2,5 ml aseton tetes demi tetes sambil diaduk
4.        Ditambahkan 10 ml etanol setelah 5 menit. Untuk memulai kristalisasi
5.        Disaring kristal dengan corong Hirsch
6.        Ditambahkan beberapa tetes HCl
6.4     Pengujian dengan Fenilhidrazin
1.        Dimasukkan kedalam tabung reaksi besar 5 ml fenilhidrazin
2.        Ditambahkan dengan 10 tetes bahan yang akan diuji yaitu : benzaldehida dan sikloheksanon
3.        Ditutup tabung reaksi dan digoncang dengan kuat selama 1-2 menit hingga mengkristal
4.        Disaring kristal dengan corong Hirsch dan dicuci dengan sedikit air dingin
5.        Direkristalisasi dengan sedikit methanol dan etanol
6.        Dkringkan dan tentukan titik lelehnya
7.        Digunakan dengan cara yang sama untuk 2,4-dinitrofenilhidrazin, buatlah turunan benzaldehid dan sikloheksanon, tentukan titik lelehnya
6.5     Pembuatan Oksim
1.        Dimasukkan 1 gram hidroksilamin HCl dan 1,5 gram natrium asetat trihidrat dalam Erlenmeyer 50 ml dan dilarutkan dalam 4 ml air
2.        Dipanaskan larutan sampai 35 ֯C
3.        Ditambahkan dengan sikloheksanon tutup dan goncang selama 1-2 menit
4.        Dilihat pada waktu mana zat padat sikloheksanon-oksim akan terbentuk
5.        Didinginkan dalam lemari es
6.        Disaring kristal dengan corong Hirsch
7.        Dicuci dengan 2 ml air es
8.        Dikeringkan dan tentukan titik lelehnya
6.6     Reaksi Haloform
1.        Dimasukkan 5 tetes aseton dalam Erlenmeyer yang telah berisi 3 ml larutan NaOH 5%
2.        Ditambahkan sekitar 10 ml larutan iodium iodide. Cara membuat : dilarutkan 25 gram iodium dan 50 gr larutan kalium iodide dalam 200 ml air
3.        Digoncang sampai warna coklat tidak hilang lagi
4.        Diamati odoform yng berwarna kuning akan mengendap dan bau khas yang timbul
5.        Dilakukan pengujian terhadao isopropanol, 2-penatanon dan 3 pentanon
6.7     Kondensasi Aldol
1.        Ditambahkan 0,5 ml asetaldehid kelarutan NaOH 1%
2.        Digoncang dan catat baunya (sisa asetaldehid)
3.        Dipanaskan campuran selama 3 menit
4.        Dicatat, hati-hati bau tengik dari krotonaldehid
5.        Disusun peralatan untuk merefluks
6.        Dimasukkan 50 ml etanol, 1 ml aseton, 2 ml benzaldehid dan 5 ml larutan NaOH 5%
7.        Direfluks campuran selama 5 menit
8.        Didinginkan labu dan kumpulkan kristal dengan corong Buchner
9.        Dikristalisasi dengan etanol dan tentukan titik lelehnya

Untuk dapat melihat video contoh dari percobaan ini, bisa klik link dibawah ini
Pertanyaan
1.    Mengapa senyawa keton tidak bereaksi pada pereaksi fehling seperti yang terlihat pada video tersebut?
2.    Mengapa saat penambahan formalin  pada larutan fehling terdapat 2 fasa pada larutan tersebut?
3.    Mengapa tembaga harus dibentuk spiral? Apakah ada pengaruhnya pada pengujian tersebut?


Selasa, 10 Maret 2020

Laporan Praktikum 4 Reaksi-reaksi Hidrokarbon


LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I




DISUSUN OLEH  : SARI BULAN
NIM                        : A1C118065
KELAS                  : REGULAR A 2018


DOSEN PENGAMPU:
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS LEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020






Untuk dapat melihat prosedur kerja dapat dilihat pada link dibawah ini
https://saribulan99.blogspot.com/2020/03/jurnal-4-reaksi-reaksi-hidrokarbon.html
                            VII.     Data Pengamatan
7.1     Brom dalam Karbon Tetraklorida
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Dimasukkan 1 ml alkana + 15 tetes brom kedalam 2 tabung reaksi, dikocok dan ditempatkan ketempat gelap lalu ditiup
Warna tetap kuning (lebih jernih) tidak menimbulkan asap
2.
Digoncangkan 1 ml alkana + 15 tetes brom dan ditempatkan ditempat terang dan ditiup
Warna tetap kuning (warna lebih gelap) tidak menimbulkan asap
3.
Digoncangkan 1 ml dietil eter + 15 tetes brom dan ditutup
Terdapat L1 (eter) dan L2 (Brom) menimbulkan asap
4.
Digoncangkan 1 ml dietil eter + 15 tetes benzene dan ditiup
Terdapat asap dan larutan keruh

7.2     Brom
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Dimasukkan 1 ml benzene lalu ditambahkan 3 tetes brom pada tabung reaksi 1
Warna larutan kuning bagian atas dan bening bagian bawahnya
2.
Dipanaskan dalam penangas air (50 ֯C) 
Menguap dan tidak bersisa dalam tabung reaksi
3.
Dimasukkan potongan besi pada tabung reaksi 2 lalu ditambahkan 1 ml benzene
Potongan besi berada dibagian dasar tabung reaksi
4.
Diteteskan 3 tetes brom
Warnanya kuning agak pudar
5.
Dipanaskan didalam penangas air (50 ֯C) 
Larutan masih tersisa didalam tabung tidak menguap


No.
Perlakuan
Hasil
1.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes alkana (n-metana)
Warnanya berubah menjadi agak kecoklatan

Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes alkana (n-heptana)
Warnanya tetap ungu pekat
3.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes alkana (n-heksana)
Warnanya kemerahan
4.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes sikloheksena (eter)
Warnanya ungu kemerahan
5.
Dimasukkan 1 ml larutan KMnO4 + 5 tetes Benzena
Terbentuknya dua lapisan dan masi-masing warnanya tetap

7.4     Asam Sulfat Pekat

No.
Perlakuan
Hasil
1.
 Dimasukkan kedalam tabung reaksi 2 ml asam sulfat + 10 tetes eter kemudian digoncangkan
Larutan menjadi warna jingga dan terasa panas pada saat dikocok
2.
Dimasukkan 2 mL H2SO4 + 10 tetes n-heptana dikocok
Larutan tidak larut sehingga terbentuk 2 lapisan, lapisan diatas bening dan dibawah agak keruh

7.5     Asam Nitrat

No.
Perlakuan
Hasil
1.
Dicampurkan asam nitrat 4 ml dengan eter
Timbul gelembung
2.
Diberi batu didih dan dipanaskan
Timbul warna orange pekat, timbul asap dan bau yang menyengat
3.
Dituangkan larutan kedalam es
Larutan berubah menjadi bening kembali

7.6     Bahan Tak dikenal
7.6.1    Bahan tak dikenal 1

No.
Perlakuan
Hasil
1.
Ditambahkan 2 ml zat X + 2 ml air kemudian digoncangkan
Terdapat 2 lapisan, lapisan atas zat X dan dilapisan bawah aquades
2.
Ditambahkan 2 ml zat X + 2 ml H2SO4 kemudian digoncangkan
Warnanya berubah menjadi kecoklatan dan baunya tidak sedap
3.
Ditambahkan 2 ml zat X + 2 ml CHCl3 kemudian digoncangkan
Terdapat 2 lapisan, lapisan atas keruh dan lapisan bawah bening

7.6.2    Bahan tak dikenal 2

No.
Perlakuan
Hasil
1.
Ditambahkan 2 ml zat X + 2 ml air kemudian digoncangkan
Terdapat 2 lapisan, lapisan atas lebih keruh daripada lapisan bawah dan bagian atasnya ada gelembung
2.
Ditambahkan 2 ml zat X + 2 ml H2SO4 kemudian digoncangkan
Terdapat 2 lapisan, lapisan atas bening dan lapisan bawah keruh
3.
Ditambahkan 2 ml zat X + 2 ml CHCl3 kemudian digoncangkan
Terdapat cincin di zat X, terdapat 2 lapisan, lapisan atas keruh dan lapisan bawah agak keruh


                           VIII.     Pembahasan
Aluminium Klorida merupakan katalis yang dapat membuat reaksi hidrokarbon dapat terjadi, senyawa hidrokarbon rantai lurus dapat diubah pada katalis ini menjadi bercabang atau biasa dikenal dengan isomerase. Salah satu contoh isomerase yang dapat terjadi adalah ketika butana menjadi isobutana sehingga isobutana ini banyak digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan iso oktana yang diketahui sebagai penyusun utama bahan bakar premium, sehingga premium ataupun bensin dapat juga ditentukan kualitasnya. Alkil halide adalah salah satu bentuk senyawa hidrokarbon jika senyawa hidrokarbon diubah, perlakuan ini disebut sebagai reaksi substitusi melalui khlorinasi atau brominasi dengan suhu tinggi sekitar 450 ֯C direaksikan atau dibawah sinar UV.
                          8.1            Brom dalam tetra klorida
Pada percobaan ini praktikan telah melakukannya sesuai yang telah tertera pada penuntun, hal pertama yang dilakukan praktikan adalah memasukkan 1 ml alkana ditambah 15 tetes brom kedalam 2 tabung reaksi, dikocok dan ditempatkan ketempat gelap lalu ditiup hasil dari perlakuan ini adalah warna tetap kuning (lebih jernih) tidak menimbulkan asap, seharusnya saat ditiup asap harus timbul karena saat asap timbul maka menandakan bahwa adanya hidrogen bromide dalm tetra klorida sedangkan untuk tabung yang lauin perlakuannya adalah menggoncangkan 1 ml alkana ditambah 15 tetes brom dan ditempatkan ditempat terang dan ditiup hasil dari perlakuan ini adalah warna tetap kuning (warna lebih gelap) dan  juga  tidak menimbulkan asap dari perlakuan ini. Seharusnya pengujian selanjutnya setelah ditiup pada  tempat gelap dan terang yaitu lakmus yang di celupkan pada larutan campuran tersebut agar praktikan dapat melihat perbedaan laju reaksi ditempat gelap maupun ditempat yang terang.
Perlakuan berikutnya adalah pengeluaran hydrogen bromide, disini praktikan mencoba mengganti bahan yang tertera di penuntun karena ketersediaan bahan yang minim seperti sikloheksana yang digantikan dengan dietil eter. Perlakuan yang pertama yaitu menggoncangkan 1 ml dietil eter yang ditambah 15 tetes brom lalu kemudian ditutup hasil dari perlakuan ini adalah terdapat lapisan pertama yaitu (eter) dan lapisan kedua yaitu (Brom) dan menimbulkan asap,terbentuknya 2 fasa ini disebabkan karena adanya perbandingan massa jenis, dan kedua larutan tersebut tidak saling bercampur karena perbedaan kepolaran pada kedua larutan tersebut, dan dari campuran ini menimbulkan asap maka ini menandakan adanya hydrogen bromide,  untuk perlakuan selanjutnya praktikan menggantikan brom dengan benzene hasil dari penambahan 1 ml eter dengan 15 tetes brom  yang ditutup adalah terdapatnya asap dan larutan keruh, pada percobaan ini juga menandakan adanya hydrogen bromide karena timbulnya asap dari hasil perlakuan tersebut.
                       8.2     Brom
Percobaan ini telah dilakukan sesuai dengan prosedur, dimana hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan 1 ml benzene lalu ditambahkan 3 tetes brom pada tabung reaksi 1 hasil dari perlakuan ini terdapat dua fasa pada larutan tersebut warna larutan kuning bagian atas dan bening bagian bawahnya, lalu dipanaskan dalam penangas air (50 ֯C) larutan tersebut menguap dan tidak bersisa dalam tabung reaksi, untuk tabung yang lain perlakuannya adalah dengan memasukkan potongan besi pada tabung reaksi lalu ditambahkan 1 ml benzene hasil dari perlakuan ini adalah potongan besi berada dibagian dasar tabung reaksi, lalu selanjutnya praktikan menteteskan 3 tetes brom pada tabung reaksi tersebut hasilnya adalah warnanya kuning agak pudar, berikutnya adalah memanaskan didalam penangas air (50 ֯C)  sehingga hasil yang didapat larutan masih tersisa didalam tabung tidak menguap dan potongan besi menjadi berkarat, pemanasan tersebut dilakukan untuk mempercepat reaksi, tetapi sayangnya warna kuning tersebut tidak cepat hilang dan masih bersisa sedikit setelah suhu mecapai 50 ֯C, namun pada saat pemanasan terlihat banyak gelembung disekitar potongan besi tersebut ini menunjukkan adanya hydrogen bromide yang dilepaskan.
                       8.3     Kalium Permanganat
Kalium permanganat yang merupakan katalis dari uji bayer ini dapat menunjukkan kereaktifan dari alkana (metana, heptana dan juga heksana), eter dan benzene terhadap oksidator tersebut. Larutan KMnO4  mengoksidasi senyawa tak jenuh, senyawa aromatik dan alkana umumnya tidak reaktif dengan KMnO4. Untuk perlakuan yang pertama yaitu memasukkan 1 ml larutan KMnO4  ditambahkan 5 tetes alkana (n-metana) hasil dari perlakuan ini adalah warnanya berubah menjadi agak kecoklatan ini menandakan bahwa terjadi suatu reaksi oksidasi pada n-metana dengan terjadinya perubahan warna dari larutan, yang awalnya berwarna ungu. Lalu perlakuan yang kedua untuk n-heptana, yaitu dengan memasukkan 1 ml larutan KMnO4 ditambah 5 tetes alkana (n-heptana) warnanya tetap ungu pekat, dari percobaan praktikan lain di literatur  hasil yang mereka dapat adalah terdapat 2 fase diatas berwarna bening dan dibawah berwarna ungu. Untuk selanjutnya adala memasukkan 1 ml larutan KMnO4 ditambah 5 tetes alkana (n-heksana) hasil dari perlakuan ini adalah warnanya ungu tanpa kemerahan, lalu selanjutnya memasukkan 1 ml larutan KMnO4 ditambah 5 tetes sikloheksena (eter) hasil dari perlakuan ini warnanya ungu kemerahan, seharusnya warna ungu tersebut hilang karena eter yang menggantikan sikloheksena termasuk senyawa hidrokarbon yang tak jenuh karena jika hidrokarbon tak jenuh direaksikan dengan KMnO4  maka larutan KMnO4 akan mengoksidasi senyawa tak jenuh. Perlakuan yang tekahir adalah memasukkan 1 ml larutan KMnO4 ditambah 5 tetes benzene, hasil dari perlakuan ini adalah terbentuknya dua lapisan dan masing-masing warnanya tetap hal ini menandakan tidak terjadinya reaksi oksidasi pada benzene dengan kalium permanganate.
                       8.4     Asam sulfat pekat
Uji asam sulfat pekat dilakukan dengan mereaksikan sampel hidrokarbon dengan asam sulfat, dimana sampel yang digunakan adalah eter dan n-heptana. Alkil hidrosulfat akan dihasilkan pada uji  sulfat ini, yang diperoleh dari suatu alkana (senyawa dengan ikatan tunggal). Pada percobaan ini dilakukan sesuai dengan prosedur kerja yang ada di penuntun hal pertama yang dilakukan adalah memasukkan kedalam tabung reaksi 2 ml asam sulfat ditambah dengan 10 tetes eter kemudian digoncangkan hasil dari perlakuan ini adalah larutan menjadi warna jingga dan terasa panas pada saat dikocok lalu selanjutnya untuk tabung yang kedua perlakuannya adalah memasukkan 2 mL H2SO4 ditambahkan 10 tetes n-heptana dikocok hasil dari perlakuan ini adalah larutan tidak larut sehingga terbentuk 2 lapisan, lapisan diatas bening dan dibawah agak keruh.
                       8.5     Asam nitrat
Percobaan ini dilakukan sesuai prosedur, dimana hal pertama yang dilakukan adalah mencampurkan asam nitrat 4 ml dengan eter hasil dari perlakuan ini adalah adanya timbul gelembung, lalu perlakuan selanjutnya adalah memasukkan batu didih kedalam larutan tersebut dan dipanaskan hasil dari perlakuan ini adalah timbul warna orange pekat, timbul asap dan bau yang menyengat perlakuan yang terakhir adalah menuangkan larutan kedalam es sehingga saat diamati larutan berubah menjadi bening kembali. Dari percobaan ini bau yang dihasilkan hanya bau menyengat tidak diperjelas bau yang menyengat seperti apa, seharusnya berbau seperti semir sepatu karena nitrobenzene berbau seperti semir sepatu.
                       8.6     Bahan tak dikenal
Pada percobaan ini praktikan akan mengidetifikasi termasuk hidrokarbon apakah bahan yang tak dikenal ini apakah jenuh, tak jenuh atau aromatik. Bahan yang tak dikenal ini akan direkasikan dengan air, H2SO4 dan juga klorofom.
                                         8.6.1     Bahan tak dikenal 1
Pada perlakuan yang pertama yaitu menambahkan 2 ml zat X dengan 2 ml air kemudian digoncangkan hasil dari perlakuan ini adalah terdapat 2 lapisan, lapisan atas zat X dan dilapisan bawah aquades, lalu selanjutnya adalah menambahkan 2 ml zat X dengan 2 ml H2SO4 kemudian digoncangkan hasil dari perlakuan ini adalah warnanya berubah menjadi kecoklatan dan baunya tidak sedap lalu perlakuan yang terakhir adalah menambahkan 2 ml zat X dengan 2 ml CHCl3 kemudian digoncangkan lalu sail dari perlakuan ini adalah terdapat 2 lapisan, lapisan atas keruh dan lapisan bawah bening. Dari hasil reaksi yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa senyawa yang memiliki ciri sama seperti hasil tersebut adalah termasuk senyawa jenuh dan bahan tersebut adalah minyak jelantah dimana pada saat minyak telah digunakan yang awalnya minyak tersebut bersifat tak jenuh tetapi setelah digunakan rantai karbonnya akan putus sehingga menjadi ikatan tunggal dimana ikatan tunggal tersebut termasuk senyawa yang jenuh.
                                         8.6.2     Bahan tak dikenal 2
Bahan yang tak dikenal selanjutnya akan sama seperti bahan yang tak dikelan sebelumnnya dimana praktikan akna mereaksikannya dengan air, H2SO4 dan juga klorofom. Hal pertama yang dilakukan praktikan adalah menambahkan 2 ml zat X dengan 2 ml air kemudian digoncangkan hasil dari perlakuan ini adalah terdapat 2 lapisan, lapisan atas lebih keruh daripada lapisan bawah dan bagian atasnya ada gelembung. Lalu selanjutnya menambahkan 2 ml zat X dengan 2 ml H2SO4 kemudian digoncangkan hasilnya adalah terdapat 2 lapisan, lapisan atas bening dan lapisan bawah keruh, Kemudain yang terakhir adalah menambahkan 2 ml zat X dengan 2 ml CHCl3 kemudian digoncangkan hasil dari perlakuan ini adalah terdapat cincin di zat X, terdapat 2 lapisan, lapisan atas keruh dan lapisan bawah agak keruh. Dari hasil yang telah diamati dapat disimpulkan bahwa senyawa yang memiliki sifat sama seperti hasil tersebut yaitu benzene, contohnya seperti saat penambahan klorofom didapatkan cincin pada zat X tersebut dimana ciri khas benzene adalah berbentuk cincin. Benzene merupakan termasuk hidrokarbon aromatik.
                            IX.     Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahi beberapa senyawa yang termasuk hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik dari persamaan sifat yang diperoleh dari hasil pada saat praktikum dengan mencocokkannya dengan literatur, kemudian praktikan dapat mengetahui kereaktifan dari alkana, alkena dan juga benzene.
                              X.     Pertanyaan Pasca
1.        Mengapa ditabung yang berisi potongan besi hasil akhirnya larutan masih tersisa didalam tabung tidak menguap semua?
2.        Apakah tabung lain di percobaan brom yang tak berisi potongan besi tidak membebaskan hydrogen bromida?
3.        Bagaimana mengidentifikasi hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik selain melihat sifat dari hasil percobaan pada bahan yang tak dikenal lainnya?
                            XI.     Kesimpulan
1.      Hidrokarbon jenuh sifat kimianya adalah ikatannya tunggal, lalu untuk hidrokarbon tak jenuh sifat kimianya aalah ikatan berangkap dua untuk alkena dan ikatan berangkat tiga untuk alkuna, sedangkan untuk hidrokarbon aromatik sifat kimianya adalah mempunyai enam electron phi yang tetap dimana senyawa lingkar strukturnya berkaitan dengan benzene, 6 atom dalam satu lingkarya.
2.      Reaksi substitusi, halogenasi dan adisi adalah termasuk reaksi kimia. Reaksi substitusi terjadi pada senyawa alkuna, realsi halogenasi terjadi pada senyawa alkana dan senyawa adisi terjadi pada alkena.
3.      Jenis senyawa hidrokarbon yang digunakan merupakan penentu teknik dan pengujian golongan hidrokarbon. Misalnya asam sulfat pekat yang digunakan untuk menguji hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik.

                         XII.     Daftar Pustaka
Chang, R. (2003). Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 1.
Jakarta: Erlangga
Sumardjo, D. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah
Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta.
Jakarta: EGC
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar I. Bandung : ITB
Wilbraham, C., dan Michael, B, Matta. (1992). Pengantar Kimia
Organik dan Hayati. Bandung: Penerbit ITB
                     XIII.            Lampiran

 Pemanasan air brom dengan potongan besi

 Hasil dari penambahan bahan tak dikenal 2 
 Penetesan air untuk percobaan
 Pengambilan sampel
Hasil zat bahan tak dikenal 1 yang telah direaksikan

Untuk Link video percobaan kelompok kami dapat dilihat disini



Jurnal percobaan 8 Kromatografi Lapis Tipis dan Kolom

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I DISUSUN OLEH   : SARI BULAN NIM                         : A1C118065 KELAS            ...