Selasa, 11 Februari 2020

Jurnal Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh


JURNAL PRAKTIKUM
KIMIAORGANIK I
  



DISUSUN OLEH  : SARI BULAN
NIM                        : A1C118065
KELAS                  : REGULAR A 2018


DOSEN PENGAMPU:
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS LEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
  


I.     Judul : Kalibrasi Termometer dan Penentuan Titik Leleh
II.  Hari  / Tanggal : Rabu, 12 Februari 2020
III.                    Tujuan : Adapun tujuan pada praktikum kali ini ialah
1.      Dapat mengetahui prinsip-prinsip dasar dalam penentuan titik leleh senyawa murni
2.      Dapat melakukan kalibrasi thermometer sebelum digunakan untuk penentuan titik leleh suatu senyawa murni
3.      Dapat membedakan titik leleh suatu senyawa murnidengan senyawa yang tidak murni
4.      Dapat melakukan penentuan titik leleh suatu senyawa murni yang diberikan sebagai sampel

IV. Landasan Teori
               Kaidah yang digunakan untuk pemurnian susunan-susunan organik yang membentuk padatan disebut sublimasi. Perubahan akan terjadi jika pemanasan dilakukan terhadap komposisi organic, perubahan itu terjadi pada berikut : Zat akan meleleh kemudian mendidih pada tekanan tertentu dan memebahas zat tersebut pada suhu kamar. Perubahan fase terjadi disini dari padat ke cair lalu ke fase gas. Akan berubah menjadi fase gas jika pada tekanan dan suhu tertentu (Underwood,2002).
                Keadaan dimana fase cair dan fase padat berada dalam kesetimbangan merupakan titik leleh suatu zat, system akan mengubah bentuk lebih banyak zat cair atau lebih banyak zat padat jika setimbang dengan ini diganggu dengan meniggikan atau menarik energy panas, namun selama fase berubah dari cair menjadi padat  suhu akan konstan pada titik leleh hal ini disebut pembekuan dan metode kebalikannnya ialah peleburan atau pelelehan (Chang,2004).
                Untuk memutuskan derajad dingin, keadaan biasa atau panas dari suatu obyek yang diukur maka thermometer selaku alat pengukur suhu tentang kondisi dingin, keadaan biasa dan panas dari suatu obyek baik dalam wujud cair, padat maupun uap perlu diteliti ketetapan pengukurannya sebelum difungsikan. Kita sebaiknya memikirkan cara mencegah kerusakan thermometer saat menggunakannya ketika mengukur suhu ataupun selama penyimpanannya.
               Titik leleh yang tajam ialah senyawa-senyawa murni yang suhunya nyaris tetap selama meleleh. Penurunan titk leleh disebabkan karena adanya pengotor yang biasa terjadi. Salah satu bahan yang tidak mudah ditelti adalah bahan yang berbentuk rasin atau senyawa lain yang mempunyai titik leleh lebih tinggi atau titik leleh lebih rendah dari senyawa utamanya. Suhu dimana senyawa tersebut mulai meleleh seluruhnya ialah merupaka titik leleh suatu senyawa (Sukarna,2003).
                Tititk leleh zat padat rentang waktunya semenjak lelehnya zat tersebut atau zat tersebut berwujud tetesan didinding tabung kapiler dan memperlihatkan peralihan suhu dari padat ke cair. Suhu standar ketika zat padat itu betul-betul meleleh menjadi cairan keadaan ini merupakan  fenomena suhu leleh suatu zat (Bervenmark,1963).

V. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:
5.1 Alat
1.    Termometer
2.    Pipa Kapiler
3.    Stick
4.    Erlenmeyer
5.    Bunsen
6.    Korek Api
7.    MPA
8.    Benang

5.2 Bahan
1.    Gabus
2.    Aquades
3.    Es Batu
4.    Minyak
5.    Naftalen
6.    Alpha-naftol
7.    Asam benzoate
8.    Maltosa
9.    Kertas Grafik
10. Oil bath
11.  Glukosa

VI. Prosedur Kerja
6.1 Kalibrasi Termometer
1.    Dibuat campuran bubuk es dan air dalam labu Erlenmeyer 250 ml sehingga 2/5 bagian volumenya terisi
2.    Dimasukkan termometer hingga ujungnya menyentuh campuran es + air, sumbat lah mulut labu erlenmeyer tersebut dengan gabus, sehingga campuran tersebut terisolasi dari udara luar
3.    Dicatat batas bawah skala termometer tersebut (0)
4.    Diangkat termometer dan ulangi lagi prosedur a-c tersebut
5.    Dirancang kembali alat dengan mengisi 2/5 bagian erlenmeyer dengan aquades
6.    Dimasukkan termometer hingga tepat 1 cm diatas permukaan air, sumbat dan usahakan termometer berada pada posisi tegak/vertikal
7.    Dilakukan pemanasan dan catat suhu saat air mulai mendidih dan suhu tidak naik-naik lagi (konstan)
8.    Diulangi produk prosedur c-g sekali lagi

3.2           Penentuan Titik Leleh
1.    Di ambil pipa gelas kapiler, lalu bakar ujung sehingga tertutup
2.    Dimasukkan sampel zat murni atau campuran dari ujung lainnya. Lalu padatkan dengan bantuan stiCK yang berlubang tengahnya. Tinggi sampel dalam pipa kapiler tidak lebih dari 2 mm
3.    Diikat pipa kapiler yang telah berisi sampel tersebut dengan termometer menggunakan benang (bagian ujung bawah thermometer)
4.    Dimasukkan alat tersebut ke dalam erlenmeyer yang telah berisi air atau minyak (tergantung tinggi TL zat tersebut) dengan mengisi 2/3 erlenmeyer dan sumbat dengan gabus mulut Erlenmeyer
5.    Dipanaskan perangkat alat ini secara perlahan dan catat suhu saat tepat zat meleleh hingga semua zat meleleh
6.    Dilakukan prosedur a-e sebanyak dua kali untuk tiap sampel yang diberikan. Sampel murni terdiri dari naftalen, glukosa Alpha-naftol, asam benzoat dan maltosa
7.    Ditentukan titik leleh campuran dua senyawa dengan cara yang sama proporsi 1:1, 1:3 dan 3:1. Gambarkan titik autentik yang diperoleh. Untuk hasil yang baik, gambarkan titik autentik pada kertas milimeter block, gambar autentik pada kertas milimeter block (kertas grafik)

3.3           Demonstrasi Titik Leleh dengan MPA (Melting Point Apparatus)
1.    Ditempatkan sampel yang akan ditentukan titik lelehnya pada pipa gelas tebal lebih kurang 2 mm
2.    Ditempatkan pipa kapiler bagian atas. Terdapat 3 lubang yang diameternya 3 mm
3.    Dimasukkan pipa kapiler yang berisi sampel pada lubang yang tengah
4.    Dimasukkan pipa kapiler yang kosong pada lubang yang lain
5.    Dihubungkan dengan tombol listrik dan on-kan dan variable suhu dapat diatur dengan tombol agar naik secara konstan dengan kecepatan tertentu
6.    Diamati dapat dilakukan dari lubang kecil di sisi depan alat
7.    Diperhatikan variabel suhu saat zat mulai meleleh

Klik link dibawah ini untuk melihat videonya
Pertanyaan
1.      Mengapa es yang digunakan tidak dibolehkan berbentuk segi empat?
2.      Mengapa saat mengukur suhu thermometer yang pakai untuk mengukur suhu digoyangkan? Apakah lebih efektif cara yang dilakukan seperti itu dari pada didiamkan saja?
3.      Bagaimana mengetahui bahwa pengkalibrasian termometer yang telah dilakukan benar?

Selasa, 04 Februari 2020

Laporan Analisa Kualitatif Unsur-unsur Zat Organik dan Penentuan Kelas Kelarutan



LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I



DISUSUN OLEH  : SARI BULAN
NIM                        : A1C118065
KELAS                  : REGULAR A 2018


DOSEN PENGAMPU:
Dr.Drs. SYAMSURIZAL, M.Si.


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS LEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020



Untuk dapat melihat prosedur kerja dapat dilihat pada link dibawah ini
VII. Data pengamatan
7.1 Analisis unsur
7.1.1 Karbon dan Hidrogen
No
Perlakuan
Hasil Percobaan
1.
 CuO kering 1 gram dipanaskan
Tidak terjadi perubahan apapun dan terlihat kering
2.
 Dicampurkan gula
CuO bercampur dengan gula dan meleleh
3.
Dipidahkan ke tabung reaksi pyrex dengan dilengkapi sumbat dan pipa pengalir gas, gas mengalir dipipa pengalir gas dan masuk kedalam tabung yang berisi 10 ml Ca(OH)2 dan dipanaskan
Timbul uap dan gas

7.1.2 Halogen
a)    Tes Beilstein
No
Perlakuan
Hasil
1.
Dipanaskan kawat tembaga
Kawat tadi mengeluarkan warna kemerah-merahan
2.
Dididinginkan, lalu ditetesi dua tetes n-hexane dan dipijarkan kembali
Kawat tersebut memperlihatkan warna nyala orange

b)   Tes CaO
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Dipanaskan kulit telur sebagai pengganti CaO sampai suhu tinggi
Tidak ada perubahan pada perlakuan ini
2.
Ketika masih panas tambahkan dua tetes n-hexane
Sebagian kulit telur yang terkena tetesan menjadi terlihat seperti gosong dan mengeluarkan bau gosong
3.
Setelah dingin dididihkan dengan air suling, lalu di tuangkan kedalam gelas kimia dan di campurkan HNO3 encer
·  Larutan menjadi jernih
·  Banyak timbul gelembung disekitar kulit telur

7.1.3 Metode leburan dengan Natrium
a)    Belerang
No.
Perlakuan
Hasil
1.
Diasamkan 3 ml larutan L (putih telur) dengan HCl pekat, dididihkan dan tutup tabung reaksi dengan kertas saring yang sudah dibasahi Pb-asetat 10%
·    Timbul gelembung gas
·    Mengeluarkan bau yang tidak sedap
·    Terbentuk gumpalan berwarna putih (putih telur menggumpal)
2.
Ditambahkan 1-2 tetes larutan Na-nitroprosida
Terbentuknya endapan berwarna putih kecoklatan, ini menunjukkan adanya unsur S (belerang)

b)      Nitrogen
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
Kedalam 3 ml larutan L ditambahkan 5 tetes larutan FeSO4 diteteskan 1  tetes larutan FeCl3 dan 5 tetes larutan KF 10% (ninhidrin) lalu ditambahkan 1-2 ml larutan NaOH 10%
Warna larutan menjadi kehitaman lalu berubah menjadi kuning bening
2.
Lalu diasamkan dengan H2SO4 encer
Terdapat endapan berwarna biru berlin

c)      Halogen
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
Diasamkan 3 ml larutan L dengan HNO3 encer
Warna larutan berwarna putih keruh
2.
Dididihkan hati-hati untuk 5-10 menit
·   Larutan berubah menjadi warna kuning
·   Timbul banyak gas yang meletup-letup
·   Timbul aroma tidak sedap beberapa waktu
3.
 Ditambahkan 5 ml larutan AgNO3 encer (5-10%) dan dididihkan
Terbentuk endapan berwarna hitam kecoklatan

7.2 Penentuan Kelas Kelarutan
7.2.1 Gula
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Larutan jernih, berarti gula larut dalam air (+)
2.
Kelarutan dalam eter
Larutan jernih, berarti gula larut dalam eter (+)
3.
Kelarutan dalam NaOH 5%
Larutan jernih, berarti gula larut dalam NaOH 5% (+)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
 Timbul gas CO3 berarti larut dalam NaHCO3 5% (+)
5.
Kelarutan dalam HCl
Larutan jernih, berarti gula larut dalam HCl (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 Pekat
Larutan jernih dan terasa panas berarti larut dalam H2SO4 Pekat (+)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Larutan jernih, berarti gula larut dalam H3PO4 pekat (+)

7.2.2 Garam
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Larutan jernih, berarti garam larut dalam air (+)
2.
Kelarutan dalam eter
Larutan jernih, berarti garam (+)
3.
Kelarutan dalam NaOH 5%
Keruh, berarti garam tidak larut dalam NaOH 5%  (-)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Tidak ada gas CO2 berarti garam tidak larut dalam NaHCO3 5% (-)
5.
Kelarutan dalam HCl
Larutan jernih, berarti garam larut dalam HCl (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 Pekat
Keruh, berarti garam tidak larut dalam H2SO4 Pekat  (-)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Jernih tapi timbul endapan (+)

7.2.3 Tepung
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Keruh, berarti tepung tidak larut dalam air (-)
2.
Kelarutan dalam eter
Keruh, berarti tepung tidak larut dalam eter (-)
3.
Kelarutan dalam NaOH 5%
Keruh, berarti tepung tidak larut dalam NaOH 5% (-)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Tidak ada gas CO2 berarti tepung tidak larut dalam NaHCO3 5% (-)
5.
Kelarutan dalam HCl
Larutan jernih, berarti tepung larut dalam HCl (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 Pekat
Warna berubah menjadi orange berarti tepung larut dalam H2SO4 Pekat (+)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Jernih tapi timbul endapan (+)

7.2.4 Minyak
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Keruh, berarti minyak tidak larut dalam air (-)
2.
Kelarutan dalam eter
Larutan jernih, berarti minyak larut dalam eter (+)
3.
Kelarutan dalam NaOH 5%
Keruh, berarti minyak tidak larut dalam  NaOH 5%  (-)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Tidak ada gas CO2 berarti minyak tidak larut dalam NaHCO3 5% (-)
5.
Kelarutan dalam HCl
Larutan jernih, berarti minyak larut dalam HCl (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 Pekat
Larutan berwarna orange minyak (+)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Larutan jernih, berarti minyak larut dalam H3PO4  Pekat (+)

7.2.5 Putih Telur
No.
Jenis Pelarut
Hasil Pengamatan
1.
Kelarutan dalam air
Keruh, berarti putih telur tidak larut dalam air (-)
2.
Kelarutan dalam eter
Larutan jernih, berarti putih telur larut dalam eter (+)
3.
Kelarutan dalam NaOH 5%
Keruh, berarti putih telur tidak larut dalam NaOH 5%  (-)
4.
Kelarutan dalam NaHCO3 5%
Ada gas CO2 berarti putih telur larut dalam NaHCO3 5% (+)
5.
Kelarutan dalam HCl
Larutan jernih, berarti putih telur larut dalam HCl (+)
6.
Kelarutan dalam H2SO4 Pekat
Warna berubah menjadi merah hati dan terasa panas berarti putih telur (+)
7.
Kelarutan dalam H3PO4 pekat
Larutan jernih, berarti putih telur larut dalam H3PO4 pekat (+)
VIII. Pembahasan
Untuk kelangsungan hidup makhluk hidup zat-zat organic dan unsur-unsur yang menyusunnya memiliki kedudukan penting. Keanekaragaman unsur penyusunnya menentukan kereaktifan dan fungsi zat-zat organic dalam kehidupan makhluk hidup. Oleh sebab itu untuk dapat mengungkapkan kedudukan unsur dalam senyawa diperlukan identifikasi kandungan unsur penyusun suatu senyawa organic dan penentuan kelarutan senyawa organic. Rumus empiris dan rumus molekul dapat didapatkan dengan memahami unsur-unsur penyusunsuatu senyawa.
8.1 Analisis Unsur
8.1.1 Karbon dan Hidrogen
Pada percobaan ini telah kami lakukan sama seperti di prosedur kerja dimana saat kami memanaskan CuO kering tidak terjadi perubahan apapun dan terlihat sampel mejadi kering,lalu saat ditambahkan gula hasil pengamatannya yaitu CuO bercampur dengan gula dan mulai meleleh lalu langkah selanjutnya yaitu praktikan memindahkan ke tabung reaksi pyrex dengan dilengkapi sumbat dan pipa pengalir gas yang telah disusun, gas mengalir dipipa pengalir gas dan masuk kedalam tabung yang berisi 10 ml Ca(OH)2 dan dipanaskan hasil yang didapat pada perlakuan ini adalah timbul uap dan gas pada tabung reaksi tersebut.
8.1.2 Halogen
Pada percobaan analisis unsur halogen itu ada 2 tes, yaitu :
a)    Tes Beilstein
Tes pertama yang praktikan lakukan yaitu tes beilstein yang pengertiannya adalah tes kimia kualitatif sederhana untuk halida organic. Perlakuan pada tes ini yaitu praktikan mengambil kawat tembaga lalu dipanaskan kawat tembaga sampai kawat tersebut berwarna kemerah-merahan setelah itu dididinginkan, lalu ditetesi dua tetes n-hexane dan dipijarkan kembali hasil dari perlakuan ini adalah kawat tersebut memperlihatkan warna nyala orange
b)   Tes CaO
Tes kedua yaitu tes CaO dimana  di tes ini bahan yang kami ingin uji tidak ada sehingga kami menggantinya dengan kulit telur, yang pertama praktikan lakukan yaitu memanaskan kulit telur sebagai pengganti CaO sampai suhu tinggi disini tidak ada perubahan yang berarti pada kulit telur tersebut, ketika kulit telur tersebut masih panas praktikan menambahkan dua tetes n-hexane hasil dari perlakuan ini yaitu sebagian kulit telur yang terkena tetesan menjadi terlihat seperti gosong dan mengeluarkan bau gosong perlakuan selanjutnya setelah dingin dididihkan dengan air suling, lalu di tuangkan kedalam gelas kimia dan di campurkan HNO3 encer larutan menjadi jernih dan banyak timbul gelembung disekitar kulit telur.
8.1.3 Metode leburan dengan Natrium
a)    Belerang
Pada percobaan ini praktikan telah melakukan sesuai dengan prosedur yang ada di penuntun, yiatu dengan mengasamkan 3 ml larutan L (putih telur)  dengan HCl pekat, protein yang berupa asam amino terkandung di dalam putih telur,asam amino yang termuat di putih telur yaitu sistein, pada oksihemoglobin unsur belerang dalam putih telur terdapat, untuk rumus molekulnya C783H1116O208N203s2Fe4(l). Lalu praktikkan  mendididihkan dan menutup tabung reaksi dengan kertas saring yang sudah dibasahi Pb-asetat 10% dimana dari perlakuan ini praktikan mendapatkan hasil pengamatan yaitu timbul gelembung gas di tabung reaksi tersebut, kemudian mengeluarkan bau yang tidak sedap dan terbentuk gumpalan berwarna putih (putih telur menggumpal) tujuan pemanasan adalah untuk mengenyahkan albumin, lalu selanjutnya yang praktikan lakukan adalah menambahkan 1-2 tetes larutan Na-nitroprosida hasil dari perlakuan ini adalah terbentuknya endapan berwarna putih kecoklatan, terbentuk endapan ini menunjukkan adanya unsur S (belerang).
b)   Nitrogen
Pada analisis unsur nitrogen praktikkan telah melakukannya sesuai dengan prosedur yang ada yaitu kedalam 3 ml larutan L ditambahkan 5 tetes larutan FeSO4 diteteskan 1  tetes larutan FeCl3 dan 5 tetes larutan KF 10% (ninhidrin) lalu ditambahkan 1-2 ml larutan NaOH 10% hasil dari perlakuan ini warna larutan menjadi kehitaman lalu berubah menjadi kuning bening lalu diasamkan dengan H2SO4 encer hasilnya adalah terdapat endapan berwarna biru berlin
c)    Halogen
Pada analisis unsur halogen yang pertama praktikan lakukan yaitu mengasamkan 3 ml larutan L dengan HNO3 encer dari perlakuan ini didapatkan hasil yaitu warna larutan berwarna putih keruh setelah itu praktikan mendidihkan hati-hati untuk 5-10 menit hasil pengamatannya adalah larutan berubah menjadi warna kuning lalu timbul banyak gas yang meletup-letup ditabung reaksi tersebut, dan menimbulkan aroma tidak sedap beberapa waktu, lalu menghilang. Selanjutnya praktikan menambahkan 5 ml larutan AgNO3 encer (5-10%) dan dididihkan kembali terbentuklah endapan berwarna hitam kecoklatan, endapan yang terbentuk cukup banyak ini membuktikan bahwa pada percobaan yang praktikan lakukan terdapat halogen.
8.2 Penentuan Kelas Kelarutan
Kepiawaian suatu zat kimia (cair atau padat) untuk dapat larut dalam pelarutnya merupakan pengertian kelarutan. Pada percobaan penentuan kelas kelrutan ini praktikan menggunakan 5 sampel zat terlarut yaitu gula, tepung, garam, putih telur dan minyak maka akan dijelaskan hasil yang didapatkan pada macam-macam sampel tersebut.
8.2.1 Gula
Pada zat terlarut yang pertamayaitu gula, gula dimasukkan kedalam air, menghasilkan larutan jernih, yang berarti gula larut dalam air (+), gula dimasukkan kedalam eter  hasil pengamatannya sama seperti air larutan tampak jernih, berarti gula larut dalam eter (+), berikutnya gula dimasukkan kedalam NaOH 5% sama seperti yang sebelumnya larutan tersebut jernih, berarti gula larut dalam NaOH 5% (+) juga, gula selanjutnya dimasukkan ke dalam NaHCO3 5% hasilnya timbul gas CO2 berarti larut dalam NaHCO3 5% (+) lalu gula dimasukkan kedalam HCl hasil yang didapat larutan jernih, berarti gula larut dalam HCl (+), selanjutnya gula dimasukkan ke dalam H2SO4 Pekat hasilnya larutan tetap sama yaitu jernih dan terasa panas pada bagian tabungnya saat dipegang berarti larut dalam H2SO4 Pekat (+), pengjujian pelarut yang terakhir yaitu gula dimasukkan kedalam H3PO4 pekat berarti larutan jernih, menandakan gula larut dalam H3PO4 pekat (+)
8.2.2 Garam
Pada zat telarut yang kedua yaitu garam yang dimasukkan kedalam air hasil dari perlakuan ini adalah larutan terlihat jernih, berarti garam larut dalam air (+), lalu garam dimasukkan kedalam eter hasilnya larutan jernih, berarti garam (+), berikutnya garam dimasukkan kedalam NaOH 5% hasilnya larutan keruh, berarti garam tidak larut dalam NaOH 5%  (-), garam dimasukkan ke dalam NaHCO3 5%  hasilnya tidak ada gas CO2 berarti tepung tidak larut dalam NaHCO3 5% (-), garam dimasukkan kedalam HCl hasilnya larutan jernih, berarti garam larut dalam HCl (+), garam dimasukkan kedalam H2SO4 Pekat hasilnya  larutan menjadi keruh, berarti garam tidak larut dalam H2SO4 Pekat  (-), yang terakhir garam dimasukkan kedalam H3PO4 pekat hasil dari perlakuan ini ialah jernih tapi timbul endapan berarti (+)
8.2.3 Tepung
Pada zat terlarut yang ketiga yaitu tepung yang dimasukkan kedalam air hasil pengamatannya larutan keruh, berarti tepung tidak larut dalam air (-),kemudian tepung dimasukkan kedalam  eter hasilnya larutan keruh, berarti tepung tidak larut dalam eter (-) lalu tepung dimasukkan kedalam NaOH 5% dari perlakuan ini hasilnya keruh, berarti tepung tidak larut dalam NaOH 5% (-), tepung dimasukkan kedalam NaHCO3 5% hasilnya tidak ada gas CO2 berarti tepung tidak larut dalam NaHCO3 5% (-), selanjutnya tepung dimasukkan kedalam HCl hasilnya larutan jernih, berarti tepung larut dalam HCl (+), tepung dimasukkan kedalam H2SO4 Pekat hasil yang didapatkan warna larutan berubah menjadi orange berarti tepung larut dalam H2SO4 Pekat (+), yang terakhir tepung dimasukkan kedalam H3PO4 pekat hasilnya larutan jernih tapi timbul endapan berarti (+)
8.2.4 Minyak
Pada zat terlarut yang keempat yaitu minyak yang dimasukkan kedalam air hasil pengamatannya larutan keruh, berarti minyak tidak larut dalam air (-), lalu minyak dimasukkan kedalam eter larutan jernih, berarti minyak larut dalam eter (+), minyak dimasukkan kedalam NaOH 5% hasil pengamatannya larutan keruh, berarti minyak tidak larut dalam  NaOH 5%  (-), selanjutnya minyak dimasukkan kedalam NaHCO3 5% hasilnya tidak ada gas CO2 berarti minyak tidak larut dalam NaHCO3 5% (-), minyak dimasukkan kedalam HCl hasil perlakuan ini larutan jernih, berarti minyak larut dalam HCl (+), selanjutnya minyak dimasukkan kedalam H2SO4 Pekat  hasilnya larutan berwarna orange minyak (+), minyak dimasukkan kedalam H3PO4 pekat hasil pengamatannya larutan jernih, berarti minyak larut dalam H3PO4 Pekat (+)
8.2.5 Putih Telur
Pada zat terlarut yang kelima yaitu putih telur yang dimasukkan kedalam air hasil pengamatannya adalah larutan keruh, berarti putih telur tidak larut dalam air (-), putih telur dimasukkan kedalam eter hasilnya larutan menjadi jernih, berarti putih telur larut dalam eter (+), putih telur dimasukkan kedalam NaOH 5% hasilnya larutan keruh, berarti putih telur tidak larut dalam NaOH 5% (-), kemudian putih telur dimasukkan kedalam NaHCO3 5% (-) hasilnya ada timbul gas CO2 berarti putih telur larut dalam NaHCO3 5% (+),  lalu putih telur dimasukkan kedalam HCl hasilnya larutan jernih, berarti putih telur larut dalam HCl (+), selanjutnya putih telur dimasukkan kedalam H2SO4 Pekat  hasilnya warna berubah menjadi merah hati dan terasa panas berarti putih telur (+), yang terakhir putih telur dimasukkan kedalam H3PO4 hasil dari perlakuan ini adalah larutan jernih, berarti putih telur larut dalam H3PO4 pekat (+)

IX. Manfaat praktikum
Manfaat dari percobaan ini adalah praktikan dapat mengetahui bagaimana cara menganalisis unsur kimia seperti karbon, hydrogen, belerang, nitrogen dan halogen oleh  karena itu praktikan dapat mengetahui bahan-bahan apa saja yang bisa digunakan sebagai pengganti suatu unsur yang tidak ada pada saat menganalisis suatu unsur kimia, dan juga agar praktikan dapat mengetahui penentuan suatu kelarutan dari zat organic

X. Pertanyaan Pasca Praktikum
1. Mengapa saat analisis nitrogen hasil akhir yang didapatkan setelah penambahan asam sulfat encer bagian atasnya berwarna kuning sedangkan endapannya berwarna biru berlin?
2. Mengapa saat mendidihkan larutan L yang telah dicampurkan HCl harus ditutup dengan kertas saring yang telah dibasahi Pb-asetat 10%?
3. Mengapa saat gas CO2 timbul dikatakan sebagai  penentu zat terlarut (gula,garam dan lain-lain) larut dalam NaHCO3 5%?
XI. Kesimpulan
     Berdasarkan praktikum yang telah praktikan lakukan , dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1.    Dengan menelah lazimnya dengan teknik tertentu (pengendapan, pemisahan, warna nyala, pemansan dan lain-lain)  untuk mengetahui unsur apa saja yang terdapat dalam suatu sampel merupakan prinsip dasar suatu pemisahan kualitatif dalam kimia organic
2.    Pada tahapan kerja analisa dalam suatu senyawa organic dan penentuan kelasnya pada beberapa unsur yaitu karbon, hydrogen, belerang, nitrogen dan halogen. Pada tahapan yang pertama yaitu analisis karbon dan hydrogen dengan cara kerja CuO dipanaskan bersama dengan gula, lalu selanjutnya untuk belerang dengan mengasamkan larutan L dan yang  dilakukan selanjutnya sesuai dengan yang diprosedur sehinnga membuktikan adanya unsur belerang pada laruta tersebut, pada unsur nitrogen larutan L ditambahkan beberapa zat sampai membuat unsur belerang tidak ada, jika belerang sudah tidak ada lalu diasamkan dengan asam sulfat encer sehingga menghasilkan endapan biru berlin untuk yang terakhir yaitu analisa kerja dari unsur halogen yaitu dengan mengasamkan larutan L lalu menambahkan suatu zat untuk menghilangkan HCN atau H2S hasil akhir dari analisa kerja unsur ini adalah terbentuk endapan yang cukup banyak maka menandakahn adanya halogen, untuk penentuan kelas kelarutan yaitu dengan menguji beberapa zat terlarut demngan beberapa pelarut yang berbeda pula sehingga didapatkan hasil larut atau tidak larutnya zat tersebut.
3.    Dalam percobaan ini praktikan memakai beberapa senyawa unknown, agar dapat mengetahui senyawa apa yang cocok yaitu dengan mengidentifikasi kandungan yang terdapat pada senyawa tersebut sehingga hasil yang didapatkan benar. Senyawa unknown yang praktikan pakai adalah HCl pekat pada analisis unsur belerang lalu larutan L praktikan menggunakn putih telur untuk menganalisis beberapa unsur diantaranya unsur halogen

XII. Daftar Pustaka
Gandjar, LG. dan Rohman, a. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: 
Pustaka Pelajar
Petrucci, Ralph H. 2000. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta :
Erlangga
Riswiyanto. 2010. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Wilbraham, C., dan Michael , B, Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik dan
Hayati. Bandun: Penerbit ITB
XIII. Lampiran     
                         Bahan yang digunakan
                          pada percobaan
Warna nyala yang di
hasilkan kawat nikrom
Disekitar kulit telur banyak
timbul gelembung
Endapan hitam kecoklatan yang
terbentuk pada analisis belerang


               Gula yang larut dalam air
Untuk link video percobaan kelompok kami dapat dilihat disini
           


Jurnal percobaan 8 Kromatografi Lapis Tipis dan Kolom

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I DISUSUN OLEH   : SARI BULAN NIM                         : A1C118065 KELAS            ...